Thursday, May 24, 2018

The Ascension of Christ - Risma Lestari Siregar



The Ascension of Christ
GSYI, 10 Mei 2018


disampaikan oleh
Pdp dr Suzanna Ndraha SpPD KGEH


diringkas oleh
Risma Lestari Siregar


             Memaknai kenaikan Tuhan Yesus memang tidak terlalu meriah untuk dirayakan. Ada peristiwa peristiwa yang terjadi di alam semesta yang mampu mengubah kehidupan alam semesta dan dirayakan dengan antusiasme yang luar biasa seperti kelahiran, peristiwa ini dirayakan dengan sangat luar biasa, bahkan hampir di setiap tempat orang orang pun merayakannya, mulai dari setiap rumah, mall, sekolah sampai kantor juga banyak lagi tempat lainnya merayakan natal, konsep perayaannya pun sudah sangat bervariasi sekali, apabila kita berbicara mengenai natal maka banyak sekali cerita yang dapat dibagikan karena kebanyakan orng sudah sangat familiar dengan perayaan ini. 
Peristiwa lainnya yang juga luar biasa adalah kematian dan kebangkitan Yesus, ini selalu dirayakan dengan meriah juga, perayaannya pun hampir semeriah orang orang merayakan natal. 
Akan tetapi jika kita berbicara tentang kenaikan yang kelihatannya tidak terlalu familiar hari perayaannya, ternyata oh ternyata peristiwa ini juga sangat luar biasa pentingnya untuk dirayakan seperti natal dan kematian serta kebangkitan Tuhan Yesus. Peristiwa ini juga sangat berpengaruh mengubah kehidupan manusia di alam semesta. 
Berbicara tentang kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, Alkitab mencatat bahwa sesudah kebangkitanNya dari antara orang mati, selama 40 hari Ia berulang ulang kali menampakkan diri kepada murid-muridNya. Bahkan bukan hanya sekedar menampakkan diri, tetapi juga berdialog dan makan bersama-sama dengan mereka. Perbincangan antara Tuhan Yesus dengan murid-muridNya berlanjut juga dalam perjalanan menuju bukit Zaitun dekat Betania. Tentunya ada maksud Allah mengapa Tuhan Yesus harus menampakkan diri secara berulang-ulang selama 40 hari. Masih segar dalam ingatan, hal mana kematian Tuhan Yesus yang sangat sadis itu telah mengguncang iman para murid, sehingga mereka pun hidup tercerai berai, bagaikan domba tanpa gembala, bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Mengapa tidak, guru yang menereka teladani, bangga-banggakan terbujur kaku, mati dengan sadis dan sangat hina (disalib gambaran kematian paling hina). kini pengharapan para murid telah kandas, cita-cita mereka untuk duduk disebalah Tuhan Yesus pupus sudah. Itulah sebabnya para murid kembali ke antifitasnya masing-masing sebelum mereka dipanggil. Tetapi pemikiran murid-murid beda dengan kemahakuasaan Allah. Karena realitasnya berbalik seratus persen. Kematian tidak mampu menahan tubuh Tuhan Yesus di dalam kubur. Dan pada hari yang ke tiga Ia bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan Tuhan Yesus disusul dengan penampakan diriNya secara berulang-ulang, tentunya untuk memulihkan iman para murid yang telah goncang itu. Dan menjelang kenaikanNya ke surga,  Tuhan Yesus pun berpesan ke pada para murid; jangan meninggalkan Yerusalem (Kisah Para Rasul 1:4), dan perintah memberitakan Injil (Markus 16:15.)
Memaknai kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan sebagai umatNya yang sudah di tebus antara lain:
1. Kenaikan Tuhan Yesus bukanlah Mitos
Alkitab mencatat secara lengkap peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Kita mulai dari Injil Markus 16:19 mengatakan "Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga". Sedangkan Injil Lukas 24:51 mengatakan "Dan ketika Ia sedang memberkati  mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga".  Lebih detail lagi dapat kita lihat dalam kitab Kisah Para Rasul 1:9  "Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka". Mari kita bedah ayat ini secara cermat. Dari ketiga kutipan nats Alkitab di atas kita menermukan kata "mereka" berarti jamak, lebih dari satu. Mari kita hitung-hitungan sebentar. Murid Tuhan Yesus ada 12 orang, penghianat satu orang, gantung diri lalu mati, tinggal 11 orang ditambah lagi beberapa perempuan, serta maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus (Kisah Para Rasul 1:14). Rasul Paulus mengatakan Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus (1 Korintus 15:6). Dengan kata lain saksi mata yang menyaksikan  kenaikan Tuhan Yesus ke sorga lebih dari ratusan orang. Saksi mata dalam sebuah peristiwa sangatlah penting. Itu sebabnya  dalam peradilan yang ada didunia ini pun membutuhkan saksi mata untuk menguatkan suatu peristiwa ataupun persidangan. Tempat kejadian perkata (TKP) yaitu Bukit Zaitun menjadi saksi bisu terhadap kenaikanNya, dan murid-murid Tuhan Yesus, menjadi saksi mata yang menyaksikan secara langsung peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.
Dari fakta-fakta di atas, jelaslah bahwa pandangan yang mengatakan bahwa para murid sedang berhalusinasi mengenai kenaikan Tuhan Yesus, bahkan mengenai kebangkitanNya dari kematian. Hal mana  ketika Tuhan Yesus mati disalibkan maka para murid mengalami kesedihan dan traumatis yang amat sangat. Sehingga para murid mencoba berhalusinasi guna menyemangati diri mereka sendiri. Yang menjadi pertanyaan mungkinkah ratusan orang sekaligus berhalusinasi? Disisi lain ada pandangan yang mengatakan bahwa peristiwa kenaikan merupakan sebuah mitos. Tidak benar bahwa Ia bangkit dari antara orang mati apalagi naik ke sorga. Kedua pandangan ini tidak mempunyai  dasar yang benar, sebab peristiwa kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus kesorga ada saksi mata yang menyaksikan peristiwa itu. Bahkan antara pribadi yang mengalami kebangkitan dan kenaikan dengan mereka-mereka yang menyaksikan kebangkitan dan kenaikan itu ada dialog yang sangat intens diantara mereka
2. Kenaikan Tuhan Yesus Untuk  Menyediakan Tempat
Yohanes 14:2-3 Mengatakan "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada".
Kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah dunia  untuk menyelamatkan  manusia dari maut. "Sebab upah dosa ialah maut" (Roma6:23). Karya keselamatan Allah yang dikerjakan di dalam Tuhan Yesus, merupakan karya keselamatn yang holistik.  Artinya Yesus bukan hanya sekedar menyelamatkan manusia yang ditebusnya, tetapi juga menyediakan tempat bagi mereka yang sudah diselamatkan itu. Tempat tinggal yang di sediakan Tuhan Yesus dikatakan banyak. Tentunya sebanyak manusia yang diselamatkan itu, sehingga tidak ada satu orang pun yang terbengkalai, yang tidak  kebagian tempat tinggal, itu cukup untuk setiap kita. Setelah Tuhan Yesus menyedikan tempat itu, maka Ia akan kembali ke dunia dengan tujuan untuk membawa setiap orang yang percaya kepadaNya, sehinga dimana Yesus berada, orang-orang yang Dia selamatkan itu pun ada di sana. Ini janji Tuhan Yesus kepada mereka, tentunya kepada kita juga, sehingga kita semakin bersungguh-sungguh dalam memuji dan memuliakan namaNya karena pengharapan kita tidak pernah sia-sia, sebab Dialah jaminan kita. Dia yang telah datang dari sorga, Dia juga yang akan membawa kita kesana. Hanya pribadi yang datang dari sorgalah yang mampu membawa  manusia ke sorga. "Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada DIA yang telah turun dari sorga, yaitu ANAK MANUSIA" (Yohanes 3:13), . Kata YESUS kepadanya: "AKUlah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada BAPA, kalau tidak melalui AKU" (Yohanes 14:6). Dengan cara yang sederhana, YESUS menjelaskan bahwa DIA adalah Jalan menuju kepada BAPA, menuju Sorga. Dan tanpa melalui YESUS, tidak ada yang dapat mencapai Sorga. Jika YESUS tidak kembali ke Sorga, kita tidak akan dapat masuk ke Sorga, sebab kita perlu Penuntun agar kita tidak nyasar dalam perjalanan kita menuju Sorga. YESUS mampu menuntun kita ke Sorga, Sehingga tidak mungkin kesasar apalagi tidak nyampe.
Tempat yang di sediakn oleh Tuhan Yesus adalah suatu tempat yang riil, nyata, bukanlah samar-samar . Sebab ada beberapa pandangan  yang berkata bahwa sorga adalah “sikap pandang,” “suatu mimpi,” “kebijaksanaan,” “suatu perasaan.” Namun, Alkitab menyaksikan bahwa Sorga adalah rumah yang akan kita tinggali dan sebagai kota yang kita diami dan sifatnya permanen artinya selama-lamanya bukanlah beberapa tahun.
Tentunya kita merindukan tempat itu. Harapan kita untuk bersama-sama dengan Tuhan Yesus adalah sangat besar karena memang dunia ini bukanlah tempat setiap manusia yang sudah ditebusNya. Tempat kita yang sesungguhnya adalah rumah Bapa. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang(Ibrani13:14)
3. Kenaikan Tuhan Yesus Menunjukkan Betapa Pentinganya Pekabaran Injil
Pekabaran Injil menjadi sentral pelayanan Tuhan Yesus selama berada di dunia. Itu sebabnya sebelum Ia terangkat ke sorga, Tuhan Yesus berpesan kepada para murid untuk memberitakan Injil.  Perintah membertakan Injil itu dapat kita lihat dalam;  Markus 16:15 "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk". Matius 28:19 "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus". Kisah Para Rasual 1:8 "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi:. Dari beberapa kutipan nats Alkitab diatas,   Tuhan Yesus SEBELUM kenaikanNya ke surga memberikan perintah kepada para murid-muridNya agar menjadi saksiNya. Hal itu dimulai dari tempat di mana mereka berada (Yerusalem), sampaiake ujung bumi. Dengan demikian, tidak ada daerah atau kota di mana Injil tidak diberitakan. Jadi, dari hal di atas kita melihat bahwa penginjilan bukan sesuatu yang boleh ada atau tidak, pekabaraana Inajil bukanlah menjadi sebuah  obsi  pilihan mau atau tidak mau. Tugas memberitakan Injil diberikan oleh Yesus sebagai sebuah keharusan. Itu juga yang pernah ditegaskan oleh  rasul besar bernama Paulus. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor.9:16b).
Perintah untuk mengabarkan Injil bukan disampaikan hanya kepada orang tertentu. Artinya perintah itu  menjadi  tugas dan tanggung jawab semua orang yang sudah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Untuk menjadi saksi tidak ditujukan hanya untuk Pendeta,  majelis gereja,  ataupun para pelayan Tuhan. Selanjutnya  menjadi saksi atau pun memberitakan Injil itu tidak harus membawa-bawa Alkitab kemana kita pergi.  Dengan cara sangat sederhanapun kita bisa menjadi saksi, memberitakan Injil, yakni lewat pola hidup kita sehari-hari. Kalau Anda dipercayakan Tuhan sebagaia seorang pemimpin, jadilah menjadi seoranga pemimpin yang baik bagi bawahan Anda.  Jika Anda sebagai seorang pekerja, bekerjalah  seperti Anda berbuat kepada Tuhan. Ini contoh sederhana menjadi saksi atau pun mengabarkan Injil. Jadilah menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus kapan dan dimanapun kita berada. Amin


The Ascension of Christ - Yenny Maria Angelina



The Ascension of Christ

Makna kenaikan Tuhan Yesus
GSYI, 10 Mei 2018

disampaikan oleh
Pdp dr Suzanna Ndraha SpPD KGEH

diringkas oleh:
Yenny Maria Angelina

Didunia ini, ada 3 moment utama yang kita rayakan bersama yaitu, kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus, dan yang terakhir adalah Tuhan Yesus akan datang kembali. Sehingga apa makna dari kebangkitan Tuhan Yesus? Yesus bangkit dan naik ke Surga untuk menyediakan tempat terbaik bagi kita, dan akan datang kembali ke dunia untuk yang kedua kalinya untuk menjeput orang-orang percaya. Lantas, siapkah kita saat Yesus datang untuk yang kedua kalinya?
Bagi orang-orang yang sudah kehilangan kehidupan yang mulia pasti tidak akan siap untuk kedatangan Yesus yang kedua kali. Kehilangan kehidupan yang mulia berarti tidak mengijinkan Tuhan untuk masuk kedalam hidup saudara. Beberapa langkah bila kita ingin masuk dalam kehidupan yang mulia, pertama kita harus mengakui kita butuh Kristus, kedua kita memang menerima Tuhan. Bila kita hanya menerima Tuhan sebagai juru selamat, kita hanya akan selamat. Namun bila kita menerima Tuhan sebagai Tuhan dan juru selamat, Tuhan akan mempunyai otoritas penuh dalam kehidupan kita sehingga kita akan berada pada posisi yang benar. Kita juga harus bisa mengaku dosa, jangan simpan-simpan dosa karena itu akan menghalangi kita sampai kepada Tuhan. Selanjutnya kita harus selalu mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan, dan yang terakhir carilah Tuhan. Biarlah Tuhan menguasai hati kita dan minta Tuhan membentuk pribadi kita sesuai perkataan Tuhan. Selain kehidupan yang mulia, pastikan kita berada dalam posisi yang benar agar kita bisa menerima semua yang mau Tuhan singkapkan kepada kita, sehingga kita bisa mendapatkan perubahan hidup yang mulia, yaitu posisi “Aku didalam kamu dan kamu didalam Aku” (Yoh 15:7).
Untuk selalu berada dalam posisi yang benar, kita harus punya pernafasan rohani. Pernafasan rohani adalah pernafasan yang seimbang antara doa dan firman. Saat kita menghembuskan nafas adalah saat kita berdoa kepada Tuhan. Saat kita menghirup nafas adalah saat firman masuk kedalam hidup kita. Banyak orang Kristen mampu untuk berdoa terus namun firmannya tidak masuk, itu sama saja kita mengalami kematian rohani.
Merenungkan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan kita akan agenda Kerajaan Sorga (Kisah Rasul 3:21). Pemulihan gereja Tuhan dibumi adalah suatu akses Tuhan untuk turun ke dunia ini. Sekarang apakah kita bisa terlibat dalam pemulihan yang sudah Tuhan agendakan itu? Dalam kitab 2 Petrus 3:8-9, perhitungan waktu Tuhan berbeda dengan perhitungan waktu manusia, sehingga jangan sampai menunda-nunda waktu yang sudah Tuhan berikan untuk kita bisa terlibat dalam pemulihan yang sedang terjadi.
Rencana Allah tidak selalu sama dengan rencana manusia (Yesaya 55:8). Seringkali kita merasa rencana kita tidak selalu berjalan mulus, sehingga kita selalu bergumul dengan masalah. Masalah kita besar atau kecil, semua tergantung dengan iman percaya kita. Masalah akan kecil bila Tuhan kita besar. Bila menghadapi suatu masalah, jangan fokus terhadap masalah itu, namun fokuslah pada firman yang tertulis karena jalan keluar akan datang bila kita mengerti firman. Tuhan mau kita tetap mengutamakan bersekutu dengan Tuhan apapun problema kehidupan kita. Dan ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah merencanakan sakit penyakit, kecelakaan, kegagalan, tapi Tuhan yang menginjinkan itu terjadi atas kita. Namun satu yang pasti, Tuhan tidak akan tinggal diam, Tuhan akan memberikan jalan keluar yang tepat, Tuhan akan memulihkan segala sesuatu pada waktu yang tepat. Ada saatnya Tuhan menyuruh kita bergerak, ada saatnya Tuhan menyuruh kita diam (Lukas 24:29, Lukas 9:1-2). Waktu Tuhan bukanlah waktu kita, bila Tuhan memerintahkan untuk tinggal diam dulu, maka kita patut untuk melaksanakannya, kita patut untuk tinggal diam.
Selanjutnya adalah bersaksi (Lukas 24:48). Bila kita menjadi saksi Kristus, kita harus pernah mengalami, melihat, mengetahui peristiwa-peristiwa pribadi kita dengan Tuhan (Mazmur 25:14). Kita tidak menjadi saksi bila tidak mengalami sendiri dalam kehidupan kita masing-masing. Bila kita bisa yakin bahwa kita bisa menjadi saksi Tuhan, maka ceritakanlah kebaikan Tuhan untuk menjalankan amanat agung yang sudah Tuhan berikan kepada kita (Matius 28:19). Untuk menjadi saksi, pastikan bahwa kita diperlengkapi dengan kuasa dari Roh Kudus (Matius 28:18, Kisah Rasul 1:8). Perlengkapan apa yang Tuhan berikan kepada kita? Yaitu perisai iman, ketopang keselamatan, berbajuzirah kebenaran, pedang Roh yaitu firman Allah (Efesus 6:10-18). Pedang Roh atau firman Allah harus selalu kita miliki untuk melawan tipu muslihat iblis dan kita bisa melakukan yang Tuhan mau yaitu menjadi saksi Kristus.
Mari bersukacitalah (Lukas 24:25). Walaupun Tuhan naik ke Sorga, murid-muridnya tidak dilanda kesedihan, melainkan sukacita karena mereka melihat dari sudut pandang kekekalan. Mereka sudah memahami bahwa Tuhan naik ke Sorga untuk menyediakan tempat terbaik untuk kita semua. Bila kita jatuh dalam dosa maka sudut pandang yang mulia juga akan hilang sehingga kita tidak akan bisa bersukacita. Saat kita menerima Tuhan Yesus maka keadaan kita akan berubah, sudut pandang kita juga akan dipulihkan Tuhan dan kita berada dalam posisi yang benar. Sehingga pada apapun pergumulan yang kita hadapai, kita harus tetap bersukacita. Karena tidak ada masalah yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah Tuhan kita (Roma 8:38), maka tidak ada alasan anak-anak Tuhan untuk terus tenggelam dalam dukacita.
Dan yang terakhir adalah memuliakan Allah (Lukas 24:53). Tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia adalah untuk kemuliaan-Nya, namun dosa membuat tujuan yang mulia itu terlepas dari pribadi kita. Sehingga bila kita kembali memperbaiki posisi hidup yang mulia, kembali kepada posisi yang tepat dihadapan Tuhan, bergaul dengan Allah, mempunyai pernafasan Rohani, memperbaiki sudut pandang kita, maka kita akan kembali mendapatkan tujuan Tuhan yang mulia dalam hidup kita, yaitu hidup kita hanya untuk memuliakan Allah. Tuhan memberkati kita semua, Amin.